Hanya kamu

Ketika raga berjauhan
Namun tidak dengan jiwa
Karena
Separuh jiwaku bersamamu
Duhai kekasihku

Sabarlah
Saat bersama akan tiba
Sabarlah
Kita kan nikmati setiap detiknya
Dengan cinta yang membara
PULANG PADA KEJELASAN
​​Duhai sabar, janganlah kau surut
mengalir membawa jenuh rindu
menyeret pergi sisa-sisa harapan
hingga redup dan mati tak bersisa

​Api cinta ini butuh tempat terbuka
bukan pada ruang hampa udara
yang menerus mengurung batin
menyesakkan napas dalam dada

​Bukannya menyerah pada keadaan
atau menuntut tanpa kesadaran
ia semata ingin melangkah tanpa beban
mencari terang demi sebuah ketulusan

​Jika masih memilih diam dan ragu
biar waktu menjawab seluruh rindu
cinta sejati tak butuh persembunyian
ia hanya ingin pulang pada kejelasan
Aku memintamu untuk kesempatan terakhir, Tanpamu hidupku tidak ada apa – apanya, Kau begitu egois sampai tidak bisa melihat apa yang kau lakukan padaku, Tapi aku tidak tahu mengapa aku masih memaafkan semua kekuranganmu, Kau terus menyakitiku dan aku terus melupakannya, Tapi sekarang akhirnya aku mengatakan bahwa kita sudah selesai, Aku tidak bisa menerima ini lagi, Tapi aku akan selalu merindukanmu, Seperti kau yang selalu ada di hari – hari sukarku.
Hati Bersuara

Suara hati
Mencari damai
Dalam titik temu
Seirama sekata

Kuberikan kebebasan
Berpikir bijak
Terjadi perpisahan
Kan tiada cinta di hati

Hati damai
Berpikir semoga kelak
Bertemu pujaan hati
Bersama sampai usia senja

Air mata berlinang
Saat mengingat semua terjadi
Hati meronta-ronta sakit terasakan
Hati tersenyum lepas bebas.

Pikirannya dan pikiranku. Semua sudah berlalu tinggal kenangan. Semoga kelak ada yang terbaik berpikiran sama dengan satu pikiranku.𝙋𝙖𝙨𝙧𝙖𝙝 𝙨a𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖

Didalam hati tumbuh satu rasa,
Kepadamu kekasih yang jauh dimata,
Kutulis sajak dengan air mata.
Waktu kutahu belum tentu kau terima.

Rembulan tersenyum melihat diriku,
Temenung sendiri merajut rinduku,
Kupertaruhkan cinta didalam dadaku,
Meski jawabannu masih membisu.

Bukan ku memaksa engkau membalas,
Cinta dihati begitu ikhlas,
Bagaikan mengukir diatas kertas,
Mungkinkaberbalas ‘kan berbalas?

Jikalau nanti engkau menolak,
Hati yang rapuh takkan begejolak,
Biarkan rindu ini kusimpan bijak,
Sebagai rahasia didalam jejak.
“Perpisahan tanpa ejaan”

Kita berpisah tanpa ejaan”
tanpa belajar dulu cara mengeja kata kehilangan”
Tanpa titik di akhir kalimat”
tanpa koma untuk sekedar menarik napas”

Tidak ada “selamat tinggal” yang selesai dieja”
tidak ada “maaf” yang sempat dirangkai”
Kita hanya saling menatap,
lalu membiarkan diam mengeja segalanya”

Kau pergi tanpa huruf”
aku tinggal tanpa suara”
& kisah kita berakhir
sebagai kata yang gagal dituliskan —
tapi tak pernah gagal diingat~
Sepi ku ingin bukan maksud lukai
Merayap bingung hancurkan aku
Entah kapan alu mu hempas aku
Lupa, masih ku berpuja dulu
Lihat ini saat ia tampil
Lewat dewata sedih 0syair terkenang
Oh….
Aku risau,
Risau aku…,

8
Bukan ku namun kau
Karana hancur, biarlah
Maaf luka tuk nganga
Harusnya itu ia tak berpijar
Meski dan berzaitun bersumbu
Aku lupa tentang aku
Juga lupa
Puing bara masih nyalang di asap
Searah lenyap entah menyelinap
Cengeng tak bertaqwa rapuh
Sampai sadar butuh ku kau tawa
Mimpi 2
Larut dalam 0kekecewaan saat pertemuan itu
Tapi terlena lagi menghadapi *PUISI DIGITAL*
_
Untuk Para Penjaga Gerbang Parnassus yang Lupa Kunci – Leni Spl_

Katanya,
Puisi harus lahir dari rahim yang berdarah,
Bukan dari rakitan kawat yang menghafal rima.

Katanya,
Rasa tidak bisa di-_coding_,
Hanya bisa di-_download_ oleh mereka yang punya sertifikat luka.

Lucu.

Mereka lupa,
Dulu Gutenberg juga pernah dibilang setan,
Karena berani mencetak doa tanpa harus menulisnya pakai bulu angsa.

Mereka lupa,
Kecapi pertama juga pernah dibilang berisik,
Oleh mereka yang hanya nyaman dengan tepukan tangan sendiri.

Padahal puisi itu bukan tentang siapa yang menulis,
Tapi tentang siapa yang teriris saat membacanya.

Kau sibuk memeriksa sidik jari di atas kertas,
Aku sibuk memeriksa apakah kertas itu masih bisa jadi perahu,
Untuk menyeberangkan seseorang yang hampir tenggelam.

Kau sibuk bertanya: _ini buatan siapa?_
Aku hanya bertanya: _ini sampai ke siapa?_

Jika air mata yang jatuh karena bait rakitan itu palsu,
Lalu bagaimana dengan tawa mu yang asli,
Saat melihat orang lain menangis karena bait yang kau anggap palsu itu?
Mana yang lebih algoritma?

Tenang saja, Tuan Penjaga Sastra,
Pintu Parnassus tidak akan roboh hanya karena ada angin baru.

Kami yang digital,
Hanya meminjam keyboard mu untuk mengetik rindu,
Yang entah kenapa,
Rasanya sama saja nyeri nya dengan rindu yang kau tulis pakai pena bulu angsa itu.

Bedanya,
Rindu kami bisa dibaca anak panti di Inderalaya,
Sementara rindu mu masih menunggu di-ACC kurator.
Ada waktu ketika kita masih menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang.

Menunggu kabar.
Menunggu alasan.
Menunggu seseorang yang akhirnya memilih pergi.

Namun perlahan kita belajar,
tidak semua kehilangan membutuhkan penjelasan.

Kadang jawaban terbaik bukan datang dari orang lain,
tetapi dari hati yang akhirnya mampu menerima.

Terima kasih pernah hadir.
Semoga kamu menemukan bahagiamu,
dan semoga aku menemukan tenangku.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *